Sekelumit hikmah dari Tanah Haram

Allah SWT itu maha penguasa alam raya ini beserta segenap isinya, termasuk isi yang tak nampak yaitu isi hati dan fikiran kita.

Suatu masa di awal tahun 2016, Allah swt mengizinkan kami sekeluarga untuk berumrah. Sekeluarga disini adalah Saya, istri, Ayah dan Ibu saya, Adik perempuanku dan Suaminya yang membawa rombongan jamaah Umroh sekitar 100 orang (saya lupa tepatnya).

Secara fikiran dan semangat, Ayah dan Ibu sangat bersemangat, tapi walaupun demikian kondisi fisiknya tetaplah sejalan dengan usianya yang sudah di atas 70 tahun. Singkat cerita secara perhitungan manusia sederhana mereka harus menggunakan kursi roda kemana-mana, kecuali untuk jarak yang pendek 2 – 3 meter masih bisa.

Saya secara sadar dan ikhlas memahami situasi ini akhirnya bersepakat dengan istri untuk bersiap-siap bahwa nantinya kami akan bersusah payah mengawal Beliau berdua dalam ziarah dan ibadah ini dengan segala keterbasan.

Tetapi …

Logika manusia ternyata sangat lah lemah dan tak berdaya jika Allah swt sudah berkehendak. Ternyata kesulitan dan hambatan yang diperkirakan dan dikalkulasi akan terjadi, lebih dari separuhnya tidak berlaku, malah berlaku sebaliknya yaitu berbagai kemudahan dan bonus lah yang terjadi. MasyaALLAH …

Situasi itu sudah mulai terjadi sejak berangkat dari rumah menuju bandara Soekarno Hatta, saat di bandara ada kemudahan, saat dipesawat ada kemudahan, apalagi ketika transit di Doha (kami menggunakan Qatar Airwaiys), beberapa situasi tak terduga terjadi yang sangat memudahkan proses transit dan pergantian/perpindahan pesawat, moda transportasi ini salah satunya.

Jpeg
Doha Airport
Jpeg
Mobil listrik (golf car)

 

Saat di Madinah,

Bulan sabit di atas Masjid Nabawi Madinah Al Munawaroh…, sungguh pemandangan yang luar biasa, masyaALLAH !

Jpeg
Bulan Tsabit di atas pemakaman Baqi, dimana para sahabat dan keluarga Rasul dimakamkan tanpa batu nisan – Madinah

Pada awalnya saya agak pesimis melihat situasi Raudhah yang sangat padat, terpal putih pembatas yang kokoh, cukup sulit rasanya membawa Ayah di kursi roda menuju ke sana. Ayah baru bisa berdoa di posisi yang jauh dari Raudhah sambil memandang ke makam Rasulullah SAW, entah apa yang ada dalam fikirannya saat itu…

Jpeg
Situasi pukul 17:14 menjelang adzan Maghrib beberapa meter di sisi kanan Raudhah, 5 Jan 2016

Tetapi, lagi-lagi Allah swt menampar saya atas logika situasi yang saya analisa itu, atas izin Allah swt dalam situasi Raudhah yang sangat padat, apalagi sholat Maghrib baru saja selesai ternyata saya dan Ayah mencapainya dengan sangat mudah dengan rute yang tak lazim, tiba-tiba ada seorang pemuda berpenampilan tinggi dengan muka yang sangat bersih bercahaya memandu kami, dan para askar (pasukan penjaga) pun memenuhi permintaan pemuda tadi untuk menempatkan kami di Raudhah dengan posisi yang bisa dipilih sepuasnya dalam waktu yang relatif lama, perasaan saya mungkin ada sekitar 10-15 menit (wallahu a’lam),  masyaALLAH, … Assalaamu’alaika ya Rasulullah … :'(. Tidak ada foto yang kami berdua ambil disini, biarlah itu selalu ada dalam hati dan bayangan indah di fikiran saya dan Ayah, sebagai pelipur kerinduan tak terperi pada baginda Nabi Muhammad SAW.

saat di Makkah …

Jpeg
Makkah, 10 Januari 2016

 

Jpeg

 

Ini juga luar biasa, kembali logikaku sebagai manusia yang penuh sombong dan sok tahu ditampar-tampar. Ayah yang sudah sangat sulit dalam berjalan tiba-tiba bersemangat berdiri dari kursi roda dan berjalan tawaf sambil tertatih di atas kedua kakinya untuk beberapa putaran, MasyaALLAH).

Jpeg
12 Januari 2016 pukul 9.06, baru saja selesai tawaf perpisahan, beberapa saat sebelum kembali ke Tanah Air.

Akhirnya kami pun pulang kembali ke Tanah Air dengan segala hikmah atas kemudahan dan keselamatan sampai rumah.

Segala kemudahan dan keindahan itu akhirnya menjadi renungan. Kiranya benarlah dalam hadith Nabi Muhammad SAW bahwa “Keridhaan Allah subhaana wa ta’ala berada dalam keridhaan orang tua …”, kasih sayang kita kepada kedua orang tua kiranya akan menjadi washilah (jalan) bagi kebaikan-kebaikan dalam kehidupan kita, insyaALLAH, Aamiin ! Ya Robbul’aalamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *