Sebab-sebab kedengkian

Ada beberapa hal yang dapat menjadi penyebab timbulnya kedengkian pada diri seseorang

  1. Permusuhan dan kebencian
  2. Ta’azzuz, merasa keberatan, jika orang lain mengunggulinya
  3. Kesombongan
  4. Ta’jub, merasa heran kepada pencapaian seseorang yang melebihi dirinya, dan ingin pencapaian itu dari orang tersebut hilang
  5. Takut tidak mendapat apa yang diinginkan
  6. Cinta kepemimpinan dan mencari kedudukan untuk dirinya tanpa tujuan jelas
  7. Buruknya jiwa dan kekikirannya untuk berbuat baik kepada hamba-hamba Allah

Referensi: Mensucikan Jiwa, Tazkiyatun Nafs – Sa’id Hawwa

Keutamaan Ridha

Keutamaan Ridha

Allah berfirman pada

Al Bayinah(98):8 :

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Balasan yang akan mereka terima kelak, di akhirat, atas keimanan dan amal saleh yang mereka lalukan adalah surga yang dialiri sungai-sungai di bawahnya. Mereka akan hidup abadi di dalamnya. Allah ridha terhadap perbuatan mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada siksaan Tuhannya, lalu ia beriman dan berbuat amal saleh (Al Bayinah: 8)

Ar Rahman(60):

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Perbuatan baik tidak akan dibalas kecuali dengan pahala yang baik pula.

At Tawbah(72):

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan tempat-tempat yang baik di surga. Dan kedamaian Allah lebih besar” (at-Taubah: 72)

Allah mengangkat ridha di atas sorga ‘Adn sebagaimana Dia menyebutkan di atas shalat, dalam firman-Nya Al Ankabut (45):

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah itu adalah lebih besar (keutamaannya).” (al-Ankabut: 45)

Sebagaimana “menyaksikan” Allah SWT di dalam shalat itu lebih besar (keutamaanya) ketimbang shalat, demikian pula ridha pemilik sorga lebih tinggi ketimbang sorga, bahkan ia merupakan puncak pencarian para penghuni sorga.

Ref: Here

Sholat Isyra’

Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ

Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna.

Refference: Rumaysho:
https://rumaysho.com/784-meraih-pahala-haji-dan-umroh-melalui-shalat-isyroq.html

Tahajud dan kesehatan

Manfaat tahajud untuk kesehatan

Sholat tahajud dapat menjadi terapi kekusutan mental karena sholat tahajud sebagai bagian dari agama, sedangkan agama sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan mental manusia.

Sholat tahajud adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada waktu malam hari dan sebaiknya dilaksanakan sesudah tidur. Bilangan rakaatnya tidak dibatasi, boleh sekuat-kuatnya. Ibadah tahajud sangat menakjubkan, memang terlihat berat pada awal pelaksanaan ketika belum terbiasa, tetapi akan menjadi sesuatu yang ringan, menentramkan, bahkan dapat membuat mata sang pengamal meneteskan air mata ketika terlewat mengamalkan pada suatu kesempatan.

Tahajud sangat dianjurkan bagi setiap muslim, karena tahajud merupakan ibadah sholat sunnah yang paling mulia. Disamping itu, tahajud juga bisa menyehatkan tubuh kita, karena hormon dalam tubuh akan bekerja yang membentuk hormon kortiso yang mempunyai fungsi utama untuk menangkal dan mempersiapkan tubuh terhadap stres.

Rasulullah saw. bersabda: “Dari Abu Hurairah ra., mengatakan: bersabda Rasulullah saw. Sholat sunnah yang utama selain sholat fardhu ialah sholat malam”. (HR. Muslim).

Bersambung …

Reference: http://caranabisholat.blogspot.com/2016/02/wow-manfaat-melaksanakan-sholat-sunnah-tahajud-kurangi-stres.html
Hati-hati dengan Copy Paste untuk dimuat kembali di blog atau website Anda, berdampak pada DMCA Google

Taqwa dan Wara

Taqwa dan Wara

Disebutkan Taqwa dan Wara secara bersama karena keduanya kadang-kadang disebutkan dalam beberapa nash atau dalam beberapa ungkapan manusia dan masing-masing diartikan dengan yang lain. Kadang-kadang Wara’ berarti kondisi tertinggi dari taqwa. Kadang-kadang taqwa berarti maqam tertinggi dari wara’. Ini adalah mazhab Al-Ghazali.

Taqwa memiliki jalan yang apabila jalan tersebut ditempuh, maka taqwa akan menjadi watak (malakah) di dalam hati yang akan melahirkan perilaku sesuai dengan Al-Quran dan as-Sunnah.

Tuntutan yang harus dilakukan manusia dari Al-Quran dan as-Sunnah tidak sama antara satu orang dan yang lainnya sesuai dengan perbedaan tingkatan tanggung jawab dan luasnya jangkauan hubungan dan kaitannya.

Diantara tuntutan taqwa adalah tanggung jawab bersama di kalangan kaum muslimin dalam menegakkan agama Allah dan diantara tanggung jawab bersama ini adalah menegakkan berbagai fardhu kifayah.

bersambung …

Tanda-tanda penyakit hati

Tanda-tanda penyakit hati

Sakitnya hati adalah tidak berjalannya fungsi penciptaan hati, yaitu: menyerap ilmu, hikmah dan ma’rifah, mencintai Allah dan ibadah kepada-Nya, merasakan kelezatan dengan mengingat-Nya, mengutamakan semua itu ketimbang semua syahwat, meminta bantuan semua syahwat dan organ untuk melaksanakan fungsi tersebut.

Allah berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Az Zariyat: 56)

Dalam setiap organ fungsi, sedangkan fungsi hati adalah hikmah dan ma’rifah yang merupakan keistimewaan jiwa yang dimiliki manusia. Dengan fungsi tersebut manusia menjadi berbeda dari binatang.

Manusia tidak berbeda dari binatang pada hal-hal seperti kemapuannya untuk makan, melakukan hubungan biologis, melihat atau lainnya, tetapi karena mengetahui sesuatu sebagaimana adanya. Sedangkan asal, pencipta dan penemu sesuatu adalah Allah azza wa jalla yang menjadikannya sebagai sesuatu.

Jika manusia mengetahui segala sesuatu, tetapi tidak mengetahui (ma’rifah) Allah, maka ia dianggap tidak mengetahui apa-apa. Tanda ma’rifah adalah cinta. Siapa yang mengetahui Allah pasti mencintai-Nya. Sedangkan tanda cinta ialah mengutamakan-Nya ketimbang dunia atau hal-hal yang dicintai selain-Nya. Sebagaimana firman Allah :

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At Taubah: 24)

Siapa yang lebih mencintai sesuatu ketimbang Allah maka hatinya sedang sakit, sebagaimana setiap perut yang lebih menyukai tanah ketimbang roti dan air atau tidak berselera kepada roti dan air maka perut tersebut berarti sakit. Itulah tanda-tanda penyakit dan dengan hal ini diketahui bahwa semua hati menderita sakit kecuali yang dikehendaki Allah.

Sumber: Fasal 13, Tazkiyatun Nafs by Sa’id Hawwa, p164-165

Dzikir dan Fikir

Tazkiyatun Nafs (Sa’id Hawwa – p30)

Dzikir dan fikir adalah dua sejoli yang dapat membukakan hati manusia untuk menerima ayat-ayat Allah, oleh karena itu tafakkur termasuk sarana tazkiyah,

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan dia, dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolong pun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): Berimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkan kami beserta orang-orang yang banyak berbuat bakti. (QS: Ali Imran 190-193)

Muroqobah dan Musyahadah

Muroqobah dan Musyahadah

Sumber: Tazkiyatun Nafs by Sa’id Hawwa

Kriteria keberhasilan dalam perjalanan menuju Allah adalah pencapaian (wushul) ke maqom ihsan yang tersebut dalam hadits (H.R. Muslim 102):

قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِحْسَانِ. قَالَ «

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu

Hal ini lah yang diungkap dengan maqom Musyahadah dan Muroqobah. Muroqobah adalah ia merasakan bahwa Allah melihatmu. Sedangkan Musyahadah adalah kamu beribadah kepada-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya.

Jika kita ingin mengetahui kekurangan dari kesempurnaan yang harus dicapai, atau ingin mengetahui keteledoran kita dari kesempurnaan yang seharusnya kita usahakan, maka carilah kedua maqom ini di hati kita. Karena hal itu merupakan timbangan yang tak pernah salah. Jika kita menemukan keduanya dalam hati kita, maka insyaAllah kita adalah orang yang tengah berjalan atau berhasil dalam perjalanan menuju Allah. Maka berusahalah sekuat tenaga kita untuk wushul (sampai ke tujuan).

Sesungguhnya tanda kehidupan hati ialah menyadari akan sifat-sifat Allah lalu merasakan bahwa Allah melihat dan mendengarnya. Ini adalah maqam Muraqabah.

Sedangkan tanda ketajaman hati ialah bahwa cahaya bashiroh dapat menembus segenap alam semesta ini kemudian ia dapat merasakan seolah-olah ia menyaksikan Allah SWT.

Tidak ada wushul (pencapaian) kepada kedua maqam ini bila hati sakit, karena penyakit-penyakit hati dapat menghalangi berbagai cahaya. Bila hati tidak tersinari cahaya maka ia tidak akan dapat merasa. Sebagaimana tidak ada wushul kecuali dengan banyak melakukan dzikir dan fikir, karena dzikir dan fikiradalah dua jalan untuk mencapai muroqabah dan musyahadah.

Janganlah Anda mengira bahwa sedikit dzikir sudah cukup, tetapi diperlukan dzikir yang banyak menyita waktu. Allah berfirman:

وَالذَّاكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذَّاكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ

… Laki-laki dan perempuat yang banyak menyedut (nama) Allah … (Al Ahzab: 35)

Firman Nya juga:

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًاۗ

Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati. (Al-Muzzammil: 8)

Bagaimana cara khusyuk

Bagaimana caranya khusyuk ?

Bisa jadi untuk sebagian orang memiliki cara dan kiat yang berbeda. Berikit ini mungkin salah satu yang bisa jadi cocok untuk saya dan Anda. Beberapa langkah yang dapat dicoba untuk mencapai khusyuk dalam mempelajari Al Quran ataupun ketika sedang melakukan Sholat adalah sebagai berikut.

Pertama, Khusyuk ini kaitannya dengan dengan hati. Khusyuk ini akan terwujud ketika hati kita bersih, untuk menjadi bersih tentu kita harus menjauhkan diri dari maksiat.

Kedua, karena khusyuk ini merupakan hadiah dari Allah SWT, karenanya kita perlu berdoa, meminta kepada Allah SWT untuk dapat khusyuk, baik dalam keadaan bersendiri maupun sedang bersama-sama orang lain.

Ketiga, dengan memahami makna yang sedang dilakukan atau yang sedang dibaca. Dengan pemahaman makna ini maka kita akan lebih mudah fokus kepada apa yang sedang kita lakukan, entah itu Sholat maupun sedang mentadaburi Al Quran.

Keempat, hindari memasukkan unsur keduniaan ketika kita akan menuju kegiatan ibadah yang membutuhkan khusyukan. Misalnya meninggalkan suatu kondisi yang menjadikan kita selalu memikirkan hal tersebut ketika kita melakukan ibadah yang membutuhkan ke khusyukan, apakah itu meninggalkan kendaraan yang tidak terkunci, tidak menonaktifkan handphone sehingga pesan-pesan yang masuk akan berpotensi mengganggu ke khusyukan.

Sekelumit hikmah dari Tanah Haram

Allah SWT itu maha penguasa alam raya ini beserta segenap isinya, termasuk isi yang tak nampak yaitu isi hati dan fikiran kita.

Suatu masa di awal tahun 2016, Allah swt mengizinkan kami sekeluarga untuk berumrah. Sekeluarga disini adalah Saya, istri, Ayah dan Ibu saya, Adik perempuanku dan Suaminya yang membawa rombongan jamaah Umroh sekitar 100 orang (saya lupa tepatnya).

Secara fikiran dan semangat, Ayah dan Ibu sangat bersemangat, tapi walaupun demikian kondisi fisiknya tetaplah sejalan dengan usianya yang sudah di atas 70 tahun. Singkat cerita secara perhitungan manusia sederhana mereka harus menggunakan kursi roda kemana-mana, kecuali untuk jarak yang pendek 2 – 3 meter masih bisa.

Saya secara sadar dan ikhlas memahami situasi ini akhirnya bersepakat dengan istri untuk bersiap-siap bahwa nantinya kami akan bersusah payah mengawal Beliau berdua dalam ziarah dan ibadah ini dengan segala keterbasan.

Tetapi …

Logika manusia ternyata sangat lah lemah dan tak berdaya jika Allah swt sudah berkehendak. Ternyata kesulitan dan hambatan yang diperkirakan dan dikalkulasi akan terjadi, lebih dari separuhnya tidak berlaku, malah berlaku sebaliknya yaitu berbagai kemudahan dan bonus lah yang terjadi. MasyaALLAH …

Situasi itu sudah mulai terjadi sejak berangkat dari rumah menuju bandara Soekarno Hatta, saat di bandara ada kemudahan, saat dipesawat ada kemudahan, apalagi ketika transit di Doha (kami menggunakan Qatar Airwaiys), beberapa situasi tak terduga terjadi yang sangat memudahkan proses transit dan pergantian/perpindahan pesawat, moda transportasi ini salah satunya.

Jpeg
Doha Airport

Jpeg
Mobil listrik (golf car)

 

Saat di Madinah,

Bulan sabit di atas Masjid Nabawi Madinah Al Munawaroh…, sungguh pemandangan yang luar biasa, masyaALLAH !

Jpeg
Bulan Tsabit di atas pemakaman Baqi, dimana para sahabat dan keluarga Rasul dimakamkan tanpa batu nisan – Madinah

Pada awalnya saya agak pesimis melihat situasi Raudhah yang sangat padat, terpal putih pembatas yang kokoh, cukup sulit rasanya membawa Ayah di kursi roda menuju ke sana. Ayah baru bisa berdoa di posisi yang jauh dari Raudhah sambil memandang ke makam Rasulullah SAW, entah apa yang ada dalam fikirannya saat itu…

Jpeg
Situasi pukul 17:14 menjelang adzan Maghrib beberapa meter di sisi kanan Raudhah, 5 Jan 2016

Tetapi, lagi-lagi Allah swt menampar saya atas logika situasi yang saya analisa itu, atas izin Allah swt dalam situasi Raudhah yang sangat padat, apalagi sholat Maghrib baru saja selesai ternyata saya dan Ayah mencapainya dengan sangat mudah dengan rute yang tak lazim, tiba-tiba ada seorang pemuda berpenampilan tinggi dengan muka yang sangat bersih bercahaya memandu kami, dan para askar (pasukan penjaga) pun memenuhi permintaan pemuda tadi untuk menempatkan kami di Raudhah dengan posisi yang bisa dipilih sepuasnya dalam waktu yang relatif lama, perasaan saya mungkin ada sekitar 10-15 menit (wallahu a’lam),  masyaALLAH, … Assalaamu’alaika ya Rasulullah … :'(. Tidak ada foto yang kami berdua ambil disini, biarlah itu selalu ada dalam hati dan bayangan indah di fikiran saya dan Ayah, sebagai pelipur kerinduan tak terperi pada baginda Nabi Muhammad SAW.

saat di Makkah …

Jpeg
Makkah, 10 Januari 2016

 

Jpeg

 

Ini juga luar biasa, kembali logikaku sebagai manusia yang penuh sombong dan sok tahu ditampar-tampar. Ayah yang sudah sangat sulit dalam berjalan tiba-tiba bersemangat berdiri dari kursi roda dan berjalan tawaf sambil tertatih di atas kedua kakinya untuk beberapa putaran, MasyaALLAH).

Jpeg
12 Januari 2016 pukul 9.06, baru saja selesai tawaf perpisahan, beberapa saat sebelum kembali ke Tanah Air.

Akhirnya kami pun pulang kembali ke Tanah Air dengan segala hikmah atas kemudahan dan keselamatan sampai rumah.

Segala kemudahan dan keindahan itu akhirnya menjadi renungan. Kiranya benarlah dalam hadith Nabi Muhammad SAW bahwa “Keridhaan Allah subhaana wa ta’ala berada dalam keridhaan orang tua …”, kasih sayang kita kepada kedua orang tua kiranya akan menjadi washilah (jalan) bagi kebaikan-kebaikan dalam kehidupan kita, insyaALLAH, Aamiin ! Ya Robbul’aalamin.